Aqidah

Buah Dari Belajar Tauhid Yang Benar

noname_13-apples-2788651_1920

Belajar tauhid yang benar akan membawa dampak perubahan yang besar bagi diri sendiri, lingkup sekitar, bahkan negara. Alhamdulillah betapa senangnya hati kita mendengar kajian bertemakan tauhid tersebar luas diseluruh negeri ini, dan alhamdulillah senang rasanya ketika banyak orang mulai mengenal dakwah tauhid dan menghadiri kajian bertema tauhid, hal ini menunjukkan bahwa kaum muslimin dinegeri ini memiliki ghiroh/semangat untuk mempelajari hak Allah subhanahu wa ta’ala yaitu hanya kepadanyalah kita menghamba serta tidak boleh mengadakan tandingan dalam bentuk apapun kepada Allah subhanahu wa ta’ala.  

Namun belajar tauhid bukanlah hanya sekedar duduk di majelis ilmu mendengarkan materi yang disampaikan ustadz, atau bukanlah kita hanya sekedar mengikuti program-program kelas online yang membahas tema tauhid, tetapi lebih dari itu inti dari belajar tauhid adalah dengan bagaimana kita bisa mewujudkan atau mempraktekkan tauhid itu sendiri kedalam kehidupan kita sehari-hari lalu kemudian mendakwahkan orang-orang yang ada disekitar kita. Karena berapa banyak diantara kita mengaku bertauhid namun belum mengerti hakikat tauhid yang sebenarnya, contoh diantara kita masih ada yang meminta kepada selain Allah, menggantungkan nasibnya kepada selain Allah, percaya zodiak atau tarot, mengannggap sesuatu membawa sial, dan lain sebagainya. 

Adapun dari sisi orang yang mengaku dirinya sudah ngaji tauhid pun juga sering menyelisihi ilmu tauhid yang dia pelajari, diantaranya: 

1. Mengucapkan Qoddarullah tapi disandarkan kepada kelalaian atau kemalasan dia sendiri, misal: dia kesiangan sholat subuh karena tidur terlalu malam atau karena sebab kelalaian yang dia perbuat, kemudian dia mengucapkan qoddarullah tadi saya kesiangan sholat subuh. Kenapa kelalaiannya harus disandarkan kepada Allah? Padahal kan dia kesiangan sholat subuh itu karena ulah kelalaian dia sendiri. Karena semestinya sikap orang yang bertauhid itu dia harus memiliki atau menyiapkan kondisi terbaiknya untuk beribada kepada Allah. 

2. Bermudah-mudah dalam mengucapkan In syaa Allah yang tujuannya bukan untuk sebuah kepastian tetapi untuk menghindar ata meneles secara halus padahal ucapan In syaa Allah adalah sebuah  janji dan yang namanya janji tidak boleh diingkaris. Misal: Seseorang diajak pergi untuk menuntut ilmu kemudian dia berkata “In syaa Allah ya kalau gak ada halangan saya akan hadir…” padahal yang demikian menunjukkan dari awal memang tidak ada niat untuk hadir tetapi dihiasi dengan kata In syaa Allah untuk menghindar secara halus. Karena semestinya orang yang bertauhid itu tidak menjadikan ucapan In syaa Allah sebagai tameng untuk menghindar secara halus. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah:  

من قال إن شاء الله ثم انكر فاعلم انه منافق 

“Barangsiapa yang mengucapkan In syaa Allah kemudian dia mengingkarinya maka ketahuilah dia seorang munafik.” 

Sedangkan telah kita ketahui bahwa sifat atau ciri orang munafik itu ada 3:  

Jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari dan jika diberi amanah dia berkhianat. 

Dan jangan sampai kita termasuk orang yang menjadikan ucapan In syaa Allah sebagai senjata andalan untuk menolak, atau diucapkan seakan-akan ingin terlihat islami padahal bisa menjadi munafik apabila digunakan dengan tidak tepat seperti yang telah dijelaskan. 

Inilah yang menjadi kesalahan ditengah-tengah orang yang sudah ngaji yang mana dengan telah mempelajari ilmu tauhid harusnya membuat seseorang baik dari sisi apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan bukan malah sebaliknya yang mana seakan menormalisasikan hal tersebut yang membuat dimata orang awam hal ini adalah perkara yang lumrah sehingga mereka ikut meniru. 

Dan berhati-hatilah dari sifat munafik!, karena bisa jadi dengan kesalahan fatal yang sering dianggap lumrah ini bisa melahirkan kemunafikan yang besar lainnya dikemudian hari, pada point ini juga sama halnya seperti poin kesatu diatas berkaitan dengan mengucapkan Qoddarullah, namun disandarkan kepada kelalaian, kecerobohan atau bahkan kejahilan dia sendiri karena dengan sebab nampaknya sudah ngaji namun ilmu yang dia pelajari tidak membekas di dalam diri, ngajinya hanya ikut-ikutan saja atau mencari kesenangan semata karena mungkin di tempat kajian bisa bertemu teman-temannya untuk ngobrol urusan duniawinya.

3. Ucapan dan perilakunya tidak jujur sehingga berdampaklah pada muamalah terkadang kita mendengar sebuah ungkapan “sudah ngaji masa perbuatannya begitu?.” 

Sering kita dengar ada si fulan ditipu saat bermuamalah dengan teman ngajinya, bayangkan ini teman ngajinya lho… kok bisa sih?, hal ini juga sebab hasil dari ngajinya tidak membekas sehingga keimanannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala telah rusak meskipun kelihatannya dia adalah orang yang rajin hadir di majelis ilmu namun pada hakikatnya tauhidnya telah rusak. 

Tentu hal ini adalah perbuatan zalim yang dapat merugikan orang lain bahkan dirinya sendiri, karena dengan sebab itu dia tidak lagi dipercaya oleh orang lain bahkan apabila dia tidak segera bertaubat dan mengembalikan hak saudaranya yang telah dia dzolimi maka tunggulah azab Allah akan datang didunia maupun diakhirat. Sebagaimana sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:  

الظلم ظلمات يوم القيامة 

“Kedzoliman itu adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Maka jangan sampai kita termasuk orang yang merugi di akhirat nanti, karena sebab kezaliman yang kita perbuat, karena nanti disaat orang-orang membutuhkan cahaya pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala tetapi kita malah termasuk orang yang merugi karena tidak mendapatkan cahaya pertolongan-Nya. 

Dan bersyukurlah bagi orang-orang yang beriman sebab di akhirat orang-orang yang beriman itu akan bergembira!, bagaimana tidak gembira?, karena pada hari kiamat nanti Allah akan mengadili kezaliman-kezaliman yang terjadi di dunia. 

Wajib bagi setiap muslim berhati-hati terhadap hak saudaranya, jika memang ada hak yang perlu diberikan maka berikanlah segera jangan bermudah-mudah untuk menundanya, karena mengambil hak saudara muslimnya adalah bukan ciri orang bertauhid. 

4. Bersikap keras terhadap orang awam namun bersikap lemah lembut terhadap sesama orang yang sudah ngaji, hal ini adalah sebuah kondisi yang terbalik yang mana harusnya orang awam didakwahi dengan cara lemah lembut justru malah dikerasi sehingga membuat orang semakin jauh dan lari dari dakwah maka manhaj salaf bukanlah seperti ini, dan sebaliknya orang yang sudah ngaji lama itu harusnya didakwahi dengan tegas agar mereka bisa merenung dan berfikir dengan jernih sehingga hal ini bisa semakin bertambahlah iman mereka dengan benar. 

Penulis pernah mendapat kabar dari seorang teman bahwa ada salah satu teman kami yang juga sudah ngaji dan dari penampilan juga menunjukkan bahwa dia sudah ngaji suatu hari bikin gaduh di suatu tempat yaitu berdebat dengan seorang ibu-ibu awam tentu hal ini adalah sebuah kekeliruan.  

Dan mungkin diantara kita juga pernah melihat sebuah video viral pada beberapa tahun belakangan ada seorang ikhwan menegur sekelompok anak muda bermain marawis di masjid tetapi cara menegurnya dengan kurang hikmah disertai emosi sehingga terjadilah keributan di tempat tersebut, bahkan di dunia maya juga. 

Itulah sebagian dari contoh pada point yang keempat ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita agar bisa mengamalkan ilmu dengan benar sehingga orang awam juga tidak salah paham terhadap dakwah tauhid. 

5. Sudah belajar ilmu tabayyun tapi tidak dipraktekkan pada akhirnya timbullah prasangka buruk terhadap sesama muslim bahkan sibuk mencari kesalahan saudaranya. 

Ketahuilah jika seseorang sudah belajar ilmu tabayyun, namun tidak dipraktekkan maka Allah akan cabut ilmu tabayyun tersebut darinya, demikian pula dengan ilmu-ilmu lainnya yang seseorang telah pelajari namun tidak dipraktekkan maka Allah juga akan mencabut darinya, maka dia belajar hanya mendapat lelahnya saja!. 

6. Masih banyak diantara kita yang khawatir atau ketakutan akan rezeki yang Allah sudah takarkan kepada setiap hambanya, sehingga diantara kita sibuk ngaji tauhid, namun ketika dihadapkan pada persoalan ekonomi, perdagangan, pekerjaan mereka masih melakukan apa yang Allah haramkan, seperti menipu, menjual barang palsu karena omsetnya yang menggiurkan dan lain sebagainya. 

Itulah beberapa diantara contoh dari tidak berdampaknya tauhid yang telah dipelajari, lalu bagaimana cara kita memperbaiki ilmu tauhid ini agar berdampak dengan benar?. 

  1. Ustadz yang mengajarkan tauhid itu harus bisa juga mengamalkan apa yang dia ajarkan, karena dengan demikian akan berdampak juga kepada murid yang diajarkan, sehingga ilmu tauhidn itu bukan sebatas teori yang disampaikan saja. 
  2. Ustadz yang mengajarkan tauhid harus bisa menanamkan tauhid itu sendiri kepada muridnya sebagai pondasi yang kuat. 
  3. Ustadz yang mengajarkan Tauhid harus merujuk pada kitab-kitab yang ringkas sebagai pondasi awal, jangan menggunakan kitab level menengah bahkan tinggi. 
  4. Orang yang belajar juga jangan merasa sudah senior sehingga tidak mau belajar dari dasar sementara yang dasar saja dia tidak kuasai, ibarat kita ingin membuat sebuah pondasi atau tembok yang kokoh, maka kita bangun dari dasar yang kuat terlebih dahulu agar tidak mudah roboh, karena inilah penyakit diantara orang yang sudah ngaji yaitu terkadang mereka langsung mempelajari kitab tauhid level menengah bahkan tinggi sehingga hal ini membuat mereka sulit untuk merealisasikan tauhid yang benar. 
  5. Ikutikah nasihat ulama dalam mempelajari ilmu yaitu dimulai dari yang ringkas terlebih dahulu. 
  6. Jangan berganti-ganti atau berpindah-pindah majelis ilmu yang sedang dipelajari ilmu tauhid.
  7. Pelajarilah ilmu bahasa brab qowaid lughoh (tata bahasa arab) sebagai modal awal untuk mempelajari ilmu Al-Qur’an, hadits dan kitab-kitab para ulama yang berbahasa arab sebab nanti hasilnya akan berbeda dan berdampak pada diri apabila kita mempelajari kitab berbahasa arab atau kitab gundul, dan akan memberikan pemahaman yang lebih, seta semangat yang berbeda. 

Demikianlah realita yang terjadi diantara kita, maka dari itu marilah kita merenung apa fungsinya banyak kajian-kajian bertema tauhid dan aqidah, namun tidak memberikan dampak kepada masyarakat luas sehingga kita saksikan hari demi hari kondisi masyarakat dan negara kita jauh dari nilai-nilai tauhid?.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين                                           

 ***

 Jakarta 30 Juni 2026 

 Abdul Fattah (Alumni Kaderisasi Da’i Bakat Academy)                    

Abdul Fattah

Alumni Kaderisasi Da’i Bakat Academy

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *