Berkah bersama gurumu
Sebagian besar dari penuntut ilmu jaman sekarang menuntut agar orang yang diambil ilmunya, sesuai seleranya.
Mencari guru yang mengerti dirinya, sesuai dengan apa yang ia inginkan. La dirimu ingin menuntut ilmu atau mau ke warung makan?.
Sementara selera itu dalam hal makanan dan minuman, bukan dalam menuntut ilmu.
Menuntut ilmu itu harus siap :
1. Disiplin
2. Mengikuti nasihat guru
3. Berbaik sangka kepada yang mengajarkan ilmu
4. Menjalankan kewajiban sebagai penuntut ilmu
5. Beradab dan berakhlak ketika menuntut ilmu
6. Memiliki hubungan yang baik terhadap guru yang sedang diambil ilmunya atau setelah menjadi alumni.
Jangan kira setelah menjadi alumni selesai dari urusan dan muamalah kepada gurunya.
Ingatlah hubunganmu kepada gurumu adalah cermin dari ilmu yang engkau miliki, karena keberkahan ilmu itu bersama mereka.
Nabi ﷺ bersabda :
البركة مع أكابركم
“Keberkahan itu bersama orang yang lebih tua diantara kalian.” (HR. Ibnu Hibban)
Keberkahan yang dimaksud adalah ilmu, umur, keluarga dan hartamu menjadi berkah serta akan selalu mendapatkan nasihat dan wejangan dari guru-gurumu.
Lebih tua itu adalah dua macam :
1. Ilmu
2. Umur.
Jika gurumu lebih tua ilmunya (lebih mumpuni) walau secara umurnya lebih muda dibandingkan dirimu dan engkau selalu mendekat dan bermuamalah dengannya, maka dirimu akan mendapatkan keberkahan darinya. Dan begitu juga sebaliknya, jika hubunganmu kepada gurumu jauh (tidak menjaga hubungan baik kepadanya), baik ketika masih belajar atau setelah menjadi alumni, maka tunggulah apa yang telah akan menimpamu.
Jika gurumu lebih tua ilmu dan umurnya dibandingkan dirimu, maka ini adalah rahmat yang luar biasa dari Allah Ta’ala untukmu.
Kedewasaan seseorang itu bukan karena umurnya, namun karena ilmu yang telah ia tuntut dari manapun tempatnya ia menuntut ilmu asalkan di atas manhaj Sahabat dan juga guru-guru yang diambil ilmunya mumpuni di bidangnya, dan ilmu agama itu bukan harus dari mana asal almamaternya, namun ilmu itu adalah apa yang sudah dipelajari, dipahami dan diamalkan, demikianlah seorang disebut sebagai orang yang berilmu.
Sikap kekanak-kanakan juga bukan karena umurnya, namun karena minimnya ilmu dan amal yang sudah seharusnya dikerjakan demi meraih ridho Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ di atas pemahaman Sahabat radhillahu ‘anhum.
Dan tanda besar seorang mengamalkan ilmunya adalah ia berani amar ma’ruf nahi munkar dimanapun ia berada, karena Nabi ﷺ bersabda :
قُلِ اَلْحَقَّ، وَلَوْ كَانَ مُرًّا
“Katakanlah yang benar jika itu kebenaran, meskipun itu pahit (berat resikonya).” (HR. Ibnu Hibban)
Seorang diberikan kehormatan dan manusia yang lain, segan kepadanya bukan karena umurnya, namun dengan Allah Ta’ala memberikan ketetapan hatinya untuk menunaikan amar ma’ruf nahi munkar disebabkan ia berusaha mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan dimanapun ia berada, bukan sekedar kita mengaku pernah belajar kitab ini itu, alumni ini itu atau muridnya Syaikh ataupun Ustadz Fulan, bukan sama sekali!.
Allah Ta’ala tidak akan melihat rupa ataupun harta-harta kita semua, dan termasuk bagian dari harta adalah title akademik asal kita belajar agama. Dan Allah hanya akan melihat hati-hati kita yakini amal ibadah yang kita kerjakan itu ikhlas karena-Nya tidak dan sesuai contoh dari Nabi ﷺ tidak.
Karena Nabi ﷺ bersabda :
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إلى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim, no. 2564)
Sudah maklum bagi kita tentang kisah Al-Imam Al-Bukhari ketika beliau rahimahullah masih berusia 15 tahun membuat gerogi seorang Ulama hadits yang sedang mengajarkan ilmu syar’i di majelisnya, lalu Al-Imam Al-Bukhari kecil ikut bermajelis menuntut ilmu hadits dan beliau gerogi karena khawatir dikoreksi oleh anak kecil yang hadir di majelisnya tersebut. Dan begitu bagaimana Al-Imam Al-Bukhari yang masih kecil menjadi penengah perselisihan dua imam besar di zaman beliau rahimahullah. (Disarikan dari biografi Al-Imam Bukhari)
Hal ini menunjukan bahwa seorang dihormati dan disegani itu bukan karena umur semata, namun sebab utamanya adalah karena ilmu dan amalnya yang berjalan selaras sehingga sangat terasa buktinya antara lisan dan perbuatan.
Seorang yang mengaku dirinya mukmin tidak boleh mencari-cari pembenaran dengan mengatakan: “bahwa si fulan didengarkan idenya atau nasihatnya dan disikapi berbeda dengan yang lainnya disebabkan karena umurnya,” ini adalah argumen dan mencari pembenaran yang hanya ibarat sebuah sarang laba-laba.
Akhir kata, jagalah hubungan bersama guru-gurumu, jangan sampai ilmumu tercabut cepat atau lambat karena rusaknya hubunganmu padanya. Jangan lupakan doakan mereka ketika engkau shalat dan di waktu-waktu mustajab, karena apa yang engkau dapatkan dari mereka tidak ada yang bisa menandingi sedikitpun juga, meskipun dirimu memberikan semua hartamu untukmu gurumu, maka tidak akan pernah lunas untuk mengganti jasa mereka menjadikan dirimu mulia disebabkan karena mereka mengajarkan ilmu.
Semoga Allah menjaga dan memberkahi ilmu, umur serta harta guru-guru kita. آمين
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
***
Disusun di bumi Allah – Bekasi
Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni
Artikel: www.muslimberdikari.com
