Hampir semua manusia mengejar dunia.
Mengejar untuk membeli rumah.
Mengejar untuk membeli motor, mobil, kendaraan lain dan hal-hal yang sedang trend.
Mengejar untuk membeli fasilitas dunia dan selalu ingin paling mendapatkan barang yang update dan versi terbaru.
Sementara urusan akhirat dijadikan sambilan serta hal yang nanti dan nanti, padahal menyiapkan bekal mudik kematian adalah sebuah kepastian yang banyak terlalaikan.
Ini adalah fitnah atau ujian umatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan saling berlomba-lomba mengejar harta, empati berkurang.
Kepedulian sesama muslim sangat tipis setipis tisu, jika tidak diingatkan, dan terkadang dingatkan dengan baik pun tetap terasa keras di hatinya.
Silaturahmi berkurang.
Ilmu berkurang dan begitu juga ilmu sulit masuk ke hatinya.
Merasa kurang terhadap kemewahan dunia dan semangat untuk menambah dan terus berusaha keras menggapainya, meskipun urusan ilmu agama sangat minim, yang terpenting baginya dan keluarganya aman nyaman dunianya, walau urusan ilmu dan akhirat ala kadarnya.
Dari sahabat Ka’ab bin ‘Iyad Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن لكل أمة فتنة ، وفتنة أمتي المال
“Sesungguhnya setiap umat itu ada fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, 2336)
Harta dan kemewahan dunia itu memiliki sifat; harta bisa meninggalkan pemiliknya (hilang) atau pemiliknya meninggalkannya (wafat), dan pemilik harta sibuk menjaga hartanya, semakin banyak hartanya maka akan semakin sibuk menjaganya. Adapun ilmu agama akan menjaga pemiliknya dari semua mara bahaya dunia terlebih akhirat.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين







