Mencintai Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah kewajiban bagi setiap muslim, karena Beliaulah yang membawa risalah wahyu dari Allah.
Dengan mencintai Beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam hakikat mencintai Allah, karena Allahlah yang mengutus Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam untuk berdakwah ke jalan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Tanda-tanda dan bukti seorang muslim mencintai Nabi dengan benar:
1. Lebih memilih, membela, mengutamakan hak dan urusannya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam daripada kepentingan pribadinya (ego), walaupun terkadang memang kebutuhannya mendesak, namun ketika kebutuhan kita ketemu dengan urusannya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, maka muslim yang baik wajib memilih urusannya Beliaushallalahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa mengurus dakwah, lembaga pendidikan, admin dakwah online, panitia kajian atau apapun bentuknya yang intinya berkaitan dengan urusan syiar dakwahnya Beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam harus lebih dibela dari semua urusan kita.
Sebagaimana yang terdapat dalam kisah ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, yaitu sebuah hadits dari Sahabat ‘Abdullah bin Hisyam radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِدٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ. فَقَالَ لَهُ عَمَرُ: فَإِنَّهُ اْلآنَ، وَاللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلآنَ يَا عُمَرُ.
“Kami mengiringi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menggandeng tangan ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian ‘Umar berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu.’ Lalu ‘Umar berkata kepada beliau: ‘Sungguh sekaranglah saatnya, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sekarang (engkau benar), wahai ‘Umar.’” (HR. Bukhari: 6632)
‘Umar Ibnul Khattab Sahabat radiallahu ‘anhu dan sudah dijamin masuk Surga saja ditegur dan diluruskan oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam karena masih mengedepankan dan membela kepentingan pribadi Beliau, dan setelah ‘Umar dinasihati atas kekeliruannya oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam Beliau langsung kembali dan barulah menjadi mukmin yang sempurna. Siapapun dirinya mengaku mencintai Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, namun ia masih membela dan mengutamakan kepentingan pribadinya, maka cintanya palsu atau minimal tak jujur kecintaannya kepada kekasih kita Habibunal Musthafaa shallalahu ‘alaihi wa sallam.
2. Lebih memilih, membela, mengutamakan hak dan urusannya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam daripada kepentingan dan hajat kedua orang tua dan anak keturunannya sendiri.
Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: فَوَالَّذِيْ نَفْسِـيْ بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya dan anaknya.” (HR. Bukhari, 14)
Urusan, hak dan kepentingan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam itu wajib lebih diutamakan daripada kebutuhan serta hajat orangtua dan anak-anaknya.
3. Lebih memilih, membela, mengutamakan hak dan urusannya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam daripada kepentingan dan hajat keluarganya, hartanya, bosnya, dan seluruh manusia yang ada di muka bumi ini.
Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يُؤْمِنُ عَبدٌ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَ مَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعيْنَ
“Tidaklah beriman seorang hamba sampai aku lebih dicintai melebihi kecintaannya kepada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعيْنَ
Dari Anas, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dicintai melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari)
Dalam hadist yang telah dipaparkan, bahkan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam sampai bersumpah, dan tidaklah Beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam bersumpah pastilah di dalamnya sangat-sangat penting, jika Beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam tak bersumpah saja wajib kita mengikuti dan taat, apalagi Beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas dengan sumpah sebagai penguat untuk lebih diikuti dan dita’ati.
Wahai engkau, ya engkau baik laki-laki maupun perempuan yang mengaku mencintai Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam?.
Apakah betul kecintaanmu kepada Beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam?.
Cek ulang pengakuanmu cinta Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dengan bukti amalmu bukan ucapanmu saja.
Apakah dirimu masih mengikuti ego dan kepentingan pribadimu dibandingkan haknya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam?.
Apakah dirimu masih mengikuti kemauan dan hajat orang tuamu dibandingkan haknya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam?.
Apakah dirimu masih mengikuti kemauan dan permintaan anak-anakmu dibandingkan haknya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam?.
Apakah dirimu masih mengikuti dan lebih besar mengedepankan untuk mengejar duniamu dibandingkan haknya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam?.
Apakah dirimu masih mengikuti ridho manusia yang banyak dibandingkan ridhanya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam?.
Jika keadaan kalian demikian, berarti palsulah kecintaan kalian kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.
Sementara mencintai Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam yang benar akan mendatangkan kebahagiaan hakiki dan Allah akan cukupkan semua urusan dunianya. (Syaikh Fadlu Illahi, di dalam Hubbun Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallamwa ‘Alaamatuhu)
Cinta Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam itu butuh kesungguhan dan pengorbanan baik tenaga, pikiran, harta, waktu, ilmu, dan mengikuti ajaran Beliau. Bukan hanya pengakuan kecintaan namun hanya di lisan semata.
Kita semua butuh akan syafa’at Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, untuk siapakah syafa’at Beliau diberikan nantinya di akhirat?, Beliau akan memberikan syafaat bagi umatnya yang benar-benar berjuang dengan semua yang ia miliki untuk lebih memperjuangkan haknya dan dakwahnya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
***
Disusun di bumi Allah Jakarta







