Fiqih dan Mu'amalah

Skala Prioritas Dalam Beramal

Skala Prioritas Dalam Beramal

Amal perbuatan dalam bentuk itikad di hati, ucapan di lisan dan gerakan anggota badan itu semua membutuhkan niat, karena dengan niat tersebut akan menentukan baik atau buruknya suatu perbuatan, perbuatan yang terlihat baik bisa menjadi buruk jika niatnya buruk, apalagi perbuatan yang sudah nampak buruk sudah pasti niatnya buruk dan tidak ada istilah “saya korupsi dengan niat baik, atau saya berzina dengan niat yang baik” maka hal tersebut bertolak belakang dengan hukum syari’at, akal sehat dan norma pada masyarakat secara umum, sebagaimana disebutkan dalam salahsatu bait qoidah fikihnya Imam Assa’di Rohimahullah

” وَالنِّيَّـةُ شَـرْطٌ لِسَـائِرِ الْعَمَـلْ … بِهَا الصَّلَاحُ وَالْفَسَادُ لِلْعَمَلْ

Niat itu adalah syarat bagi seluruh ‘amal(perbuatan), dengannya (yang akan menentukan) sah atau tidaknya suatu ‘amalan.

Niat secara bahasa artinya ialah maksud/keinginan yang kuat dalam hati untuk berbuat sesuatu, adapun secara syariat artinya ialah keinginan yang kuat dalam hati untuk berbuat sesuatu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’aala, dan tempat niat itu di dalam hati.

Dalam fenomena tersebarnya ilmu agama dengan dakwah salafiyah khususnya di negri yang kita hidup didalamnya, berdiri diatas tanah air yang kita cintai, kita wajib bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’aala yang telah memudahkannya kemudian atas perjuangan, pengorbanan dan kesabaran asatidzah rohima wa jazaahumullohu yang terdahulu mendakwahkan ilmunya dengan manhaj salaful-ummah wa lillaahil-hamd.

Tersebarnya ilmu pada zaman ini tidak dipungkiri karena sebab adanya media sosial era digital yang tentunya hampir setiap orang mudah mengaksesnya, namun disamping cepat tersebarnya ilmu dengan cara dakwah di medsos ada konsekuensi yang menjadi resiko diantaranya:

  1. Berkurangnya kualitas ilmu yang disampaikan, bisa jadi yang berani tampil bukan ahlu ilmi, hanya modal berani dan mempunyai channel dakwah yang sudah tersebar.
  2. Hilangnya adab di majlis ilmu, yang hal ini berpengaruh pada keberkahan majlis ilmu, misalnya adab duduk, adab menyimak dan adab bertanya.
  3. Berkurangnya pengagungan terhadap ilmu dan penghormatan pada ahli ilmu yang sebenarnya, karena yang lebih sering tampil bukan ahlu ilmi, melainkan dai yang tidak mumpuni bahkan rusak manhajnya dan kurang kefakihannya, sehingga kebenaran ilmiyah menjadi samar.
  4. Syubhat mudah masuk pada yang awam ilmu, sehingga sulit untuk diarahkan pada metode menuntut ilmu yang benar, mudah baper jika ditegasi.
  5. Samarnya ahli ilmu yang mumpuni dengan yang asal terkenal, disebabkan kalah tenar di medsos dengan cara dakwah yang mengikuti selera jamaahnya.

Ilmu syar’i yang telah dipelajari dan difahami maka pasti menuntut untuk diamalkan, namun terkadang dalam pengamalnya tidak sesuai dengan apa yang dimaksud syariat, misal ada seorang mendengar dari penjelasan seorang ustadz dari hadits yang mulia bahwa terlarangnya melewati kedalam sutroh orang yang sedang sholat, lantas ia praktekan ketika sholat di masjid yang masih umum kebanyakan orang masih awam akan hal tersebut, kemudian ia lakukan tanpa melihat pelakunya apakah dalam keadaan jahil, anak kecil, orang yang sudah lanjut usia dan lain sebagainya, dilakukan dengan tegas bahkan dengan kasar menghalangi orang yang akan melewati sutrohnya, maka hal ini akan menyebabkan kesalahfahaman dan reaksi negatif dari sebagian masyarakat awam, dan malah akan lari menjauh memusuhi dakwah Sunnah, semestinya ia tidak harus langsung mencegahnya dengan kasar atau memaksa, biarkan berlalu kemudian barulah selesai sholat diberikan pemahaman mengenai larangan tersebut. Betapa pentingnya bagi penuntut ilmu memahami ilmu fikih, ilmu fikih dengan kata lain ialah ilmu untuk mengemas ilmu, agar ilmu kebenaran terlaksana dan tersampaikan dengan baik dan benar, seperti pelajaran yang dapat diambil dari kisah seorang arab Baduy yang kencing di masjid ketika Rosulullah dan para sahabat berada di masjid, bagaimana Rosulullah menyikapi arab Baduy tersebut yang tidak sama dengan sikap para sahabat, para sahabat bersikap kasar langsung menghardiknya, namun Rosulullah segera menahan sikap para sahabat yang dinilai keliru karena akan memunculkan madhorot yang lebih besar yakni akan membuat arab Baduy tersebut ketakutan dan lari, sementara air kencingnya akan menyebar lebih luas lagi mengotori area masjid, kemudian  arab Baduy tersebut akan merasa dihardik dan akan lari dari dakwah,  Rosulullah membiarkan arab Baduy tersebut menyelesaikan hajatnya (kencing) lalu setelah itu baru Rosulullah memberitahu dengan lembut bahwa ia kencing diarea Masjid tempat ibadahnya orang islam, maka arab Baduy tersebut menerima dengan sikap Rosulullah sholallahu ‘alaiyhi wa sallam.

Menyeru manusia kepada Allah subhanahu wa ta’aala harus dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Hikmah disini suka kita salah artikan bahwa hanya dengan cara yang lembut saja disebut hikmah, jika dengan cara yang tegas bahkan dianggap kasar itu tidak hikmah betulkah demikian? Jika memang dianggap demikian oleh keumuman orang yang terlihat sibuk ngaji, maka akan menghasilkan generasi yang lemah/manja, inginnya dimengerti oleh ustadznya tapi sulit mengerti kepada ustadznya, tidak heran jika semakin banyak jumlah jemaahnya namun tidak bertambah kualitas ilmunya, bahkan sampai ada murid yang durhaka pada ustadz yang telah mengenalkan Sunnah, mengajarkan ilmu-ilmu syar’i kepadanya, hanya karena masalah dunia yang seringkali memicu sebab timbulnya prasangka buruk, menggibah dan lain sebagainya na’udzubillah, hal ini penting sekali untuk menjadi perhatian bagi para Da’i untuk menyampaikan ilmu dengan hikmah sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah kepada para sahabatnya, ketika menghadapi orang awam ia bersikap lembut, tapi menghadapi kekeliruan sahabat beliau bersikap tegas, jadi hikmah itu ialah bisa menempatkan kapan bersikap lembut dan kapan bersikap tegas. Mari belajar ilmu pengetahuan agama dengan niat yang jujur kepada Allah, melalui pengajar yang jujur, maka ilmunya akan diberkahi Allah Robbul’aalamin.

Demikian tulisan yang singkat ini, agar menjadi renungan kita bersama,dan semoga berfaedah.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Majalengka, 14 Muharrom 1448 H / 30 Juni 2026 M

Saleh Bahtiar

( Alumni Kaderisasi Dai Bakat Academy )

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *