Tauhid yang benar akan mengarahka seseorang dalam mencari ilmu dengan niat yang benar, dengan cara yang benar, mengambil dari sumber yang benar dan pada guru atau ustadz yang benar-benar seorang ustadz.
Niat adalah merupakan amalan hati sebagai pembuktian dari ucapan lisan dan hati, yang kemudian akan mendorong pelakunya dalam bentuk perbuatan, dan akan menentukan baik atau buruknya suatu amalan, seperti di sebutkan dalam hadits yang mulia:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya amalan itu dengan niat yang khusus/tertentu, dan sungguh setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkan, maka sesiapa yang hijrahnya karena Allah dan RosulNya maka hijrahnya karena Allah dan Rosulnya, dan sesiapa yang hijrahnya karena dunia atau Wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya kepada sesuatu yang ia tuju.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dan dalam salahsatu nidhom kaidah fikih disebutkan:
وَالنِّيَّـةُ شَـرْطٌ لِسَـائِرِ الْعَمَـلْ … بِهَا الصَّلَاحُ وَالْفَسَادُ لِلْعَمَلْ
Anniyatu syartun li sa-iril-‘amal biha sholahu wal-fasaadu lil’amal
“Niat itu adalah syarat bagi seluruh ‘amal, dengan niat itu akan menentukan baik atau buruknya suatu ‘amal.”
Peran tauhid pada pencarian, pemahaman, pengamalan dan penyebaran ilmu adalah kebutuhan yang fundamental, tanpa tauhid ilmu yang didapat akan menjadi keliru, salah bahkan sesat dan menyesatkan. Sebagai permisalan seseorang mencari atau belajar ilmu syar’i dengan niat ingin digelari atau dipanggil ustadz, tuan guru, Buya, Syaikh, kyai, ajengan dan lain sebagainya, sehingga ia mendapat kehormatan, mendapatkan pujian, mendapatkan banyaknya jemaahnya, followernya, bahkan nantinya ia dapat memberikan tarif dakwahnya sebagai pendapatanya, hal tersebut telah lama dan banyak terjadi dikalangan kaum muslimin maka tentulah dampak yang akan timbul bagi dirinya dan masyarakat akan merusak kemurnian dakwah, karena dakwah yang semestinya ialah mengajak manusia ke jalan Allah subhanahu wa ta’aala dengan ilmu yang datang dari Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman salaful-ummah lillah (karena Allah/mengharap balasan dari Allah) dan Fillah (di jalur jalanya Allah yakni tatacaranya sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah dan rasul-nya)
Dengan tauhid yang benar maka ilmu akan bermanfaat bagi perbaikan dirinya dan perbaikan umat Islam, berdampak positif bagi semuanya.
Tauhid yang benar Sebagaimana Ilmu yang bermanfaat akan merubah akhlak menjadi baik dan mulia, maka akhlaq adalah cerminan dan pembuktian benar tidaknya Tauhid seseorang. Alhamdulillah telah banyak majlis ilmu yang membahas tentang tauhid seperti Kajian kitab Aqidah washitiyah, nubdzatun fii Aqidah Ahlu Sunnah, Syarhu Sunnah dan lain sebagainya, hal ini merupakan ni’mat dari Allah Subhanahu wa ta’aala kemudian pada da’i senior yang dahulu telah berjuang mendakwahkan tauhid kepada masyarakat ditanah air yang kita cintai ini. Namun disisi lain setelah dahwah yang mulia ini dimudahkan dan tersebar kita mendengar bahkan menyaksikan orang yang terlihat sibuk ngaji Tauhid bahkan sampai ada yang sudah bergelar ustadz melakukan kedzoliman terhadap orang lain, seperti saling berebut jamaah dengan cara memframing negatif ustadz lain yang dijadikan saingan dalam mengadakan kajian. Antar Ikhwan kajian sebagian besar hanya ramah pada yang ia kenal, tidak jarang hanya memanfaatkan kebaikan yang lain tanpa empati, sehingga terjadi penipuan (akadnya pinjam tapi tidak kunjung dikembalikan), mudah su’udzon pada saudaranya tapi sulit Husnudzon atau memberi udzur pada saudaranya. Fenomena ini muncul ketika kemudahan kemudahan yang Allah berikan sekagus sebagai ujian atau fitnah pada kita semua, terlebih pada kita yang telah menisbatkan diri beragama diatas manhaj Salaf. Mengapa terjadi demikian? Mari kita telaah dari beberapa sebab diantaranya:
- Mempelajari Tauhid hanya sebatas wawasan.
- Mempelajari Tauhid untuk bahan debat dengan pihak lain yang berbeda manhaj.
- Mempelajari Tauhid untuk dapat validasi dari komunitas.
- Belajar pada ustadz yang tidak mumpuni ilmunya, hanya karena adanya gelar dan terkenal.
- Lemah dan malas mengamalkan tauhid.
Tauhid yang benar akan memberikan pengaruh pada ibadah, dan ibadah itu adalah segala bentuk perbuatan yang diridhoi Allah Subhanahu wa ta’aala dari ucapan dan tindakan baik lahir (tampak) maupun batin (tersembunyi).
Tauhid yang benar akan memberikan pondasi yang kokoh dalam menjalankan ibadah, tauhid yang benar menjadi syarat mutlak akan diterima atau ditolaknya ibadah, baik atau buruknya ibadah, terpuji atau tercelanya ibadah. Adapun dalil yang tegas menunjukkannya kata ulama ialah pada dua kalimat syahadat:
Laa ilaaha illallah (ikhlas lilahi ta’aala) wa Asyhadu Anna muhammadarosulullah (hanya mengikuti tatacara ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah (Ittiba), dengan ini para ulama fikih menjadikan dua hal tersebuto syarat diterimanya amal ibadah, yakni Ikhlas dan ittiba. Sebagai orang yang telah menisbatkan diri beragama diatas manhaj salaf, maka hal ini menjadi tuntutan paling fundamental dalam pembuktian, dalam kata lain Manhaj Salaf adalah Manhaj Pembuktian. Sudah semestinya hal tersebut menjadi fokus prioritas yang wajib bagi setiap orang yang mengaku diatas manhaj Salaf, karena hijrah manhaj bukan sekedar ganti penampilan saja, bukan sekedar ganti teman saja, bukan sekedar ganti komunitas saja, bukan sekedar kenal banyak ustadz apalagi ngaku ngaku sebagai muridnya ustadz atau syaikh saja.
Tauhid yang benar akan memperbaiki kualitas ibadah hamba Allah, akan bisa membedakan ibadah mana yang prioritas, akan memeriksa ibadahnya apakah masih sekedar rutinitas atau sudah tertanam kewajiban yang akan membuahkan akhlak yang Karim.
Tauhid yang benar akan menjadikan ibadahnya penuh hikmah, sholatnya akan terus menumbuhkan rasa takut, harap dan cinta pada Allah, puasanya akan mengontrol nafsu serakahnya dan dzolim pada saudara muslim yang lain, shodaqohnya yakin akan kembali untuk kemaslahatan dirinya, tauhid yang benar akan menjadikan hamba merasa belum aman dari sifat kemunafikan dirinya, kedzoliman dirinya, kebid’ahan bahkan kesyirikan yang akan mengakibatkan amal ibadah yg banyak dilakukan yang dianggap baik menjadi debu yang beterbangan, semisal fanatik bahwa yang baik dan benar adalah menurut ustadz dari kelompoknya tanpa timbangan ilmu yang benar dan menganggap yang lainnya aneh, bukankah hal ini merupakan perkara baru (bid’ah) yang tidak ada pada zaman para salaf dahulu?.
Tauhid yang benar akan memperbaiki mu’amalah, dan hasil perbaikannya akan dirasakan setiap individu, dan hal ini adalah keniscayaan, karena sebagai makhluk sosial pasti akan saling berinteraksi saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Mu’amalah yang didasari dengan tauhid yang benar akan menumbuhkan harmonisasi, simpati dan empati, kemudian akan terbangun ukhuwah islam, diantaranya mu’amalah dengan keluarga, kerabat, masyarakat bahkan dengan pemerintah ketika terjadi masalah dengan kembali pada tauhid yang benar maka setiap permasalahan akan dapat mendapatkan solusi dan terhindar dari kezaliman.
Tanpa mempelajar, memahami dan mengamalkan tauhid yang benar maka akan timbul berbagai kedzoliman, seperti berebut harta warisan tanpa aturan agama, berebut penguasaan lembaga pendidikan, adanya demontrasi pada pimpinan atau penguasa, dan berbagai macam kedzoliman lainya.
Sebagai kesimpulan dan penutup, bahwasanya begitu fundamental peran tauhid pada seluruh aspek kehidupan dunia hingga akhirat, sebagaimana Tauhid adalah pohon yang pangkal akarnya menghunjam kedalam tanah, semakin dalam dan kuat akar tersebut maka akan semakin menjulang tinggi batangnya, semakin rindang dahannya, semakin rimbun daunnya dan semakin lebat buahnya bermanfaat bagi seluruh makhluk yang ada disekitarnya, ” khoyrunnas anfa’uhum linnas.” Bahkan Allah subhanahu wa ta’aala akan memberikan ampunan yang begitu luas kepada sesiapa yang menjaga tauhidnya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits qudsi:
عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً
Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam!, Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih)
Pelajarilah tauhid dengan niat yang benar, kepada ahli ilmu yang benar-benar telah mengamalkan tauhid sehingga akan nampak perubahan besar kepada perbaikan Ilmu, ‘akhlak dan muamalah, hingga berdampak positif bagi masyarakat dan negara pada umumnya.
Demikian nasihat sederhana ini, semoga bermanfaat untuk kita semua.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
***
Majalengka, 14 Muharrom 1448 H / 30 Juni 2026 M
Saleh Bahtiar (Alumni Kaderisasi Da’i Bakat Academy)







