Nasihat untuk para panitia kajian
Berpeluh dan letih demi mencari sebab untuk masuk surganya Allah.
Baik dari shalatmu, puasamu, hajimu, infaqmu dan semua amal kebaikanmu maka jagalah ikhlasmu!.
Gembiralah jika engkau menjadi bagian dari sebuah kebaikan walaupun tak nampak dari pandangan manusia, karena sebaik-baik amal adalah yang disembunyikan dari khalayak ramai.
Berakhlak dan beradablah wahai para panitia kajian di manapun Anda berada kepada pemateri atau ustadz yang Anda undang dan diminta untuk mengajarkan ilmu di masjid atau lembaga yang engkau urus.
Wahai para panitia kajian, jangan Anda atur orang para ustadz dengan nafsu masing-masing pengurus!.
Datanglah dan tatap mukalah dengan ustadz yang diminta mengajarkan ilmu di masjid atau lembaga yang Anda urus, jika ada perubahan atau hal yang lain. Jangan hanya mencukupkan dengan chat WA atau hanya telpon saja!.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan setiap kaum muslim untuk mendudukan seseorang sesuai kedudukannya, bukan malah semaunya sendiri dan seakan panitia kajian adalah bos lalu ustadz yang mengajarkan seakan anak buahnya yang bisa diatur, dikritik dan diberhentikan sesuai hawa nafsu oleh panitia kajian.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
أَنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
“Duduklah manusia sesuai kedudukan mereka (jangan sembrono).” (HR. Abu Dawud dalam as-Sunan pada Kitab “al-Adab” no. 4842, Abu Nu’aim dalam Mustakhraj ‘ala Shahih Muslim (1/89 no. 57) dan Hilyatul Auliya’ (4/379))
Panitia kajian itu dari ilmu, akhlak dan adabnya harus lebih tinggi dibandingkan jama’ah kajian yang datang ke kajian yang Anda menjadi pengurus masjidnya, jangan malah kebalik sehingga amanah Anda semua akan malah menjadi bencana yang tak akan ada ujungnya.
Ingatlah wahai para panitia kajian bahwa ustadz yang Anda minta mengajarkan ilmu itu termasuk penyambung lidah para ulama, dan mereka adalah pewaris para Nabi.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawudno. 3641, Ibnu Majahdi dalam Muqaddimah-nya, serta dinyatakan sahih oleh al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih at-Targhib, 1/33/68)
Bersyukur (berterima kasih) kepada mereka karena Allah semata, sebab mereka berusaha sabar dalam mengajarkan ilmu dan berdakwah, sehingga ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnahpun tersebar hingga sampai kepada kita. Kita bisa mengetahui akidah yang benar, manhaj yang lurus. Oleh karena itu, sudah semestinya Anda berterima kasih kepada mereka karena Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
لَا يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak akan bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada orang lain. (karena kebaikannya).” (HR. Abu Dawud no. 4177, lihat Ash-Shahihah no. 416)
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi t (wafat 258 H) berkata : “Para ulama lebih mengasihi dan menyayangi umat Muhammad daripada ayah dan ibu mereka.” Beliau ditanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Beliau menjawab : “Bapak dan ibu mereka melindungi mereka dari api dunia, sedangkan para ulama melindungi mereka dari api akhirat.” (Mukhtashar Nashihat Ahlil Hadits hlm. 167)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah mengatakan : “Bila para ulama dihormati, syariat pun akan dimuliakan, karena mereka adalah pembawa syariat tersebut. Namun, bila para ulama direndahkan, syariat juga akan dihinakan, karena apabila kewibawaan para ulama telah direndahkan dan dijatuhkan di mata umat, syariat yang mereka bawa akan dihinakan dan tidak bernilai. Setiap orang akan meremehkan dan merendahkan mereka. Akibatnya, syariat pun akan hilang. Para penguasa pun demikian keadaannya: wajib dimuliakan, dihormati dan ditaati, sesuai dengan ketentuan syariat-Nya. Apabila kewibawaan penguasa direndahkan, dihinakan, dan dijatuhkan, hilanglah keamanan (ketenteraman) masyarakat. Negara menjadi kacau, sementara penguasa tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan dan menegakkan peraturan. Oleh karena itu, apabila kedua golongan ini, ulama dan umara, direndahkan di mata umat, syariat akan rusak dan keamanan akan hilang. Segala urusan menjadi kacau-balau.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/110)
Wahai para panitia kajian, jadilah orang-orang yang bermanfaat untuk banyak manusia berdasarkan ilmu yang benar bukan sesuai selera hawa nafsu Anda semua.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’, no. 3289).
Bertanyalah tentang ilmu dan butuhlah nasehat ustadz yang diminta mengajarkan dengan jalan meminta nasihat dan bimbingan kepadanya, jangan malah engkau panitia kajian merasa sudah lebih pinter dari seorang ustadz tentang ilmu dan mengurus dakwah di masjid atau lembaga yang Anda diberikan amanah untuk mengurusnya.
Allah Ta’ala mewajibkan orang yang tidak berilmu untuk bertanya kepada ahlinya dengan firmannya :
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahu.” (QS. An-Nahl : 43)
Apapun amanahnya, jagalah ikhlas dan akhlak Anda kepada ustadz yang diundang untuk mengajarkan ilmu dan ia sudah menyanggupinya, jangan selesihi akad yang telah disepakati dengannya. Karena amal Anda semua untuk wasilah doamu kepada Allah di dunia dan menjadi sebab masuknya dirimu ke Surga yang tinggi.
Engkau memiliki amanah menjadi panitia kajian :
1. Amanah untuk antar jemput Ustadz
2. Wasilah penyaluran donasi dari para donatur untuk pembangunan masjid atau lembaga dakwah
3. Pemberi wakaf untuk tempat ibadah dan lembaga pendidikan.
4. Amanah mendatangkan kebaikan baik amal atau seorang pengajar
5. Admin atau tim media dakwah
6. Tim pengamanan sebuah acara kebaikan
7. Dan semua hal kebaikan melalui Anda, maka jagalah semua amalmu dari hal-hal yang merusak keikhlasanmu.
Ingatlah bahaya mengungkit-mengukit kebaikan yang telah dilakukan dan mengganggu orang yang telah diberi kebaikan, maka sia-sialah amalmu.
Berapapun banyak amal kebaikanmu jika dirimu ingin disebut-sebut sebagai pahlawan dan di kemudian hari engkau ingin disanjung atau diakui sebagai orang yang paling berjasa dan harus disebut-sebut jasanya.
Bahkan berani mengatakan “jika tidak ada saya, maka tempat atau si fulan itu sulit maju dan berkembang” ataupun ucapan yang serupa dari dengan hal itu, yang intinya menghancurkan dan menghapuskan amal kebaikannya sendiri, maka rugilah dirinya di dunia dan terlebih di akhirat.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).” (QS. Al-Baqarah : 264)
Takutlah dan ingatlah bahwa yang pertama kali dimasukkan ke dalam Neraka bukanlah orang-orang yang dhahirnya dalam kehidupan di dunia melakukan kejahatan atau kemaksiatan, namun mereka adalah secara kasat mata melakukan kebaikan sebagai:
1. Penghafal Al-Qur’an namun ingin disebut sebagai seorang yang Qori ini dan itu.
2. Seorang yang maju ke medan jihad namun ingin disebut sebagai seorang pahlawan.
3. Donatur namun ingin disebut sebagai seorang yang dermawan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ، وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ، فَأَوَّلُ مَنْ يَدْعُو بِهِ رَجُلٌ جَمَعَ الْقُرْآنَ، وَرَجُلٌ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ كَثِيرُ الْمَالِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لِلْقَارِئِ: أَلَمْ أُعَلِّمْكَ مَا أَنْزَلْتُ عَلَى رَسُولِي؟ قَالَ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا عُلِّمْتَ؟ قَالَ: كُنْتُ أَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ: إِنَّ فُلَانًا قَارِئٌ، وَقَدْ قِيلَ ذَاكَ.
وَيُؤْتَى بِصَاحِبِ الْمَالِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: أَلَمْ أُوَسِّعْ عَلَيْكَ، حَتَّى لَمْ أَدَعْكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَحَدٍ؟ قَالَ: بَلَى، يَا رَبِّ، قَالَ: فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا آتَيْتُكَ؟ قَالَ: كُنْتُ أَصِلُ الرَّحِمَ،
وَأَتَصَدَّقُ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ: فُلَانٌ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ.
ثُمَّ يُؤْتَى بِالَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: فِي مَاذَا قُتِلْتَ؟ فَيَقُولُ: أُمِرْتُ بِالْجِهَادِ فِي سَبِيلِكَ، فَقَاتَلْتُ حَتَّى قُتِلْتُ، فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ: فُلَانٌ جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ، ثُمَّ ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رُكْبَتِي، فَقَالَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمْ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya Allah yang Maha tinggi dan Maha suci akan turun kepada hamba pada Hari Kiamat untuk memberikan keputusan di antara mereka. Dan setiap umat dalam kondisi berlutut. Kemudian orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang menghafal Al-Qur’an, orang yang terbunuh di jalan Allah, dan orang yang banyak harta.
Maka Allah berkata kepada sang qari (orang yang biasa membaca Al-Qur’an):
‘Tidakkah Kuajarkan kepadamu apa yang saya turunkan kepada RasulKu?’
Dia menjawab: ‘Benar wahai Tuhanku’.
Allah berkata lagi: ‘Apa yang kamu perbuat terhadap apa yang sudah kamu ketahui itu?’
Dia menjawab: ‘Saya menjalankannya sepanjang malam dan sepanjang siang’.
Maka Allah berkata: ‘Kamu telah berdusta’.
Dan para Malaikat berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’.
Kemudian Allah berkata kepadanya: ‘Justru kamu melakukan hal itu dengan maksud agar dikatakan: Si fulan adalah qari’ (Pembaca Al-Qur’an yang mahir dan bagus). Dan hal itu telah dikatakan kepadamu.
Kemudian didatangkan orang yang mempunyai banyak harta.
Allah berkata kepadanya: ‘Tidakkah sudah Kulimpahkan harta kepadamu hingga kamu tidak membutuhkan siapapun?’.
Orang itu menjawab: ‘Benar wahai Rabbku’.
Allah bertanya lagi: ‘Apa yang kamu kerjakan terhadap harta yang Kuberikan kepadamu itu?’.
Dia menjawab: ‘Saya menggunakannya untuk menyambung silaturrahmi dan bersadaqah’.
Allah berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’.
Para Malaikat juga berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’.
Kemudian Allah berkata: ‘Justru kamu melakukan itu dengan maksud agar dikatakan: Si Fulan adalah lelaki yang dermawan’. Dan hal itu sudah dikatakan kepadamu.
Kemudian didatangkan orang yang terbunuh di jalan Allah.
Maka Allah berkata: ‘Dalam rangka apa kamu terbunuh?’.
Dia menjawab: ‘Saya diperintah berjihad di jalan Engkau. Maka saya berperang hingga terbunuh’.
Allah berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’.
Para Malaikat juga berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’. Allah berkata: ‘Justru kamu melakukan itu agar dikatakan kepadamu: Si Fulan adalah pemberani’. Dan hal itu telah dikatakan kepadamu.
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menepuk kedua lututku sambil berkata: ‘Wahai Abu Hurairah! Ketiga golongan itu adalah makhluk yang pertama kali Neraka dinyalakan untuk mereka pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim)
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
***
Disusun di bumi Allah – Bekasi, 2 Jumadil Akhir 1439 H
Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni
Artikel: www.muslimberdikari.com
