Tidak akan pernah sama
Tidak akan sama antara yang mendengar dengan yang tuli.
Tidak akan sama antara yang melihat dengan yang buta.
Tidak akan sama antara yang hidup dengan yang mati.
Tidak akan sama antara yang cahaya dengan yang kegelapan.
Tidak akan sama antara yang beriman dengan kafir.
Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar : 9)
Begitu pula tidak akan sama antara yang berilmu dengan yang jahil.
Tidak akan pernah sama antara Ustadz sebenarnya (istilahan) dengan ustadz julukan (lughotan). Yang menyamakan atau merasa disamakan, sesungguhnya telah menganggap remeh ayat di atas, sementara ayatnya sangat jelas dan terang benderang layaknya melihat matahari di siang hari, kecuali Allah memang telah menutupi dan memalingkan hatinya dengan melihat matahari di malam hari.
Hanya orang-orang yang berakal yang mampu menerima nasihat, pelajaran, kebenaran dan peringatan.
Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu berkata :
“Jangan engkau nasehati orang yang bodoh (suka membantah) karena ia akan membencimu, nasehatilah orang yang berakal karena ia akan mencintaimu.”
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
***
Disusun di bumi Allah – Jakarta
Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni
Artikel: www.muslimberdikari.com
