Cintailah ilmu
Mencintai ilmu adalah salah satu tanda bagi seorang hamba bahwa ada kebaikan pada dirinya.
Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata :
” من لا يحب العلم لا خير فيه…”
“Barangsiapa yang tidak mencintai ilmu, maka tidak ada kebaikan pada dirinya…” (توالي التأنيس لابن حجر167)
Begitu juga sebaliknya, seorang yang tidak mencintai ilmu, maka pada dirinya tidak ada kebaikan.
Karena salah satu kebaikannya adalah dirinya akan mencintai orang yang berilmu atau yang mengajarkan ilmu dan tidak menjatuhkan orang yang berilmu walaupun tidak terkenal.
Tidak di sebutkan dan disyaratkan bahwa seorang yang mengajarkan ilmu itu harus terkenal dan sering muncul diberbagai media.
Penuntut ilmu harus belajar dan mengambil ilmu dari seorang guru yang mumpuni ilmunya, bukan menjadi syarat seorang yang mengajarkan ilmu harus terkenal diberbagai media masa.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
معلم الخير يستغفر له كل شيء حتى الحيتان في البحر.
“Seluruh makhluk Allah mendoakan kepada para pengajar ilmu (agama), sampai ikan dilautan ikut mendoakan.” (Shohihul Jami’).
Di dalam hadits di atas tidak di sebutkan yang mengajarkan ilmu agama harus terkenal dan mengajarkan ilmu di berbagai media, namun setiap penuntut ilmu wajib belajar kepada guru yang mumpuni ilmunya, baik beliau-beliau memiliki gelar akademik atau tidak, intinya mumpuni di bidangnya maka ambilah ilmunya.
Jangan seorang yang mengaku sebagai penuntut ilmu mensyarakatkan sesuatu yang bukan bagian dari yang disyaratkan dalam belajar ilmu.
Menuntut ilmu hanya kepada guru-guru yang memiliki gelar dan terkenal saja, ini merupakan tanda tidak pahamnya seseorang dalam menuntut ilmu.
Setiap penuntut ilmu wajib untuk berguru kepada guru yang mumpuni ilmunya, lurus manhajnya, amanah, silsilah guru-gurunya mampu dipertanggung jawabkan dan mengamalkan ilmunya.
Sehingga jangan sampai penuntut ilmu hanya mau belajar kepada guru yang terkenal atau bergelar saja.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
***
Disusun di bumi Allah – Bekasi
Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni
Artikel: www.muslimberdikari.com
