Hasad yang berpahala

Dari Sahabat Ibnu Mas’ud semoga Allah meridhoinya dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا حسد إلا في اثنين: رجل آتاه الله مالا فسلطه على هلكته في الحق ،ورجل آتاه الله الحكمة فهو يقضي بها و يعلمه

“Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang : seseorang yang di berikan oleh allah harta,lalu di tunaikan (salurkan) kepada yang berhak,dan seseorang yang diberikan oleh allah ilmu agama,dan dia mengamalkannya dan mengajarkan.”(Mutaffaqun ‘alaihi).

Hasad adalah menginginkan kenikmatan dari orang lain hilang dan berpindah ke dirinya ini merupakan kejelekan yang luar biasa.

Hukum asal sikap hasad itu sangat tercela dan sikap yang menghancurkan pribadi, sahabat karib, dan masyarakat pada umumnya. Lebih-lebih musibah lagi, sikap hasad menghinggapi para penuntut ilmu, tidak terlepas juga para Du’at, bahkan sikap hasad para Da’i itu lebih besar dibandingkan para mad’u (jama’ah pengajian) kajian pada umumnya.

Setiap ujian dan musibah pasti mengandung hikmah, begitu juga sikap hasad ini jika dilawan dan baru di hati saja belum diamalkan, tentu hal ini akan mendatangkan kebaikan dan pahala, dengan sebab seseorang bersikeras berjuang untuk melawan sikap hasad yang ada.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecualikan bahwa ada sikap hasad yang baik dan berpahala. Hadist diatas juga menunjukkan, bahwa tidak semua kebaikan yang bernilai ibadah harus mempunyai modal besar, namun cukup dengan amalan hati kita, yaitu bercita-cita akan melakukan yang sama, jika diberikan salah satunya, baik harta untuk di infakkan di jalan allah ataupun ilmu agama yang diamalkan dan diajarkan kepada umat.

Sungguh langka kita jumpai seseorang yang diberikan ilmu dan sekaligus harta berlimpah.

Lihatlah Imam Ibnu Mubarok rahimahullah seseorang raja di zamannya dan ahlul ilmi, bahkan beliau salah satu Imam ahlu hadits :

1. Jika ada yang minta harta kebeliau akan diberi, karena beliau orang kaya

2. Jika ada yang minta diajarkan ilmu agama beliau, maka beliau akan ajarkan, karena beliau ahlu ilmu yang ‘alim

3. Jika ada orang yang minta perlindungan,maka beliau lindungi,karena beliau seorang raja yang berkuasa, Beliau imam ibnu mubarok juga menghajikan manusia setiap tahunnya,membiayai orang-orang yang mempunyai keinginan kuat untuk belajar agama. Begitu mulianya harta, ilmu, kekuasan beliau, sehingga semuanya bermanfaat untuk manusia dan perjuangan dakwah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خيركم من أنفعكم للناس

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling bermanfaat untuk manusia.”

Pernah suatu ketika beliau diprotes oleh orang-orang, kenapa beliau bershodaqoh keluar dari pada daerahnya, maksudnya lebih jauh dari tempat tinggalnya, beliau menjawab: aku membantu orang yang ada di luar sana, karena mereka para penuntut ilmu dan para pejuang Islam dengan ilmu, karena setiap kebaikan yang mereka ajarkan kepada orang lain dan seterusnya, dan aku akan mendapat pahala dari sebab mereka (karena Al-Imam Ibnu Mubarok yang membantu mereka). Beliau sangat cinta dan bangga kepada para penuntut ilmu dan yang mengajarkan ilmu. Kecintaan beliau bukan tanpa alasan, salah satu manfaatnya seorang yang mempunyai usaha didunia untuk memenuhi kebutuhannya akan maju disebabkan peduli kepada para penuntut ilmu dan para pejuang agam yang berjuang dengan ilmu (para Ulama dan Da’i ), namun bukan itu tujuan beliau membantu mereka. Memperhatikan para penuntut ilmu dan mau membantu mereka, baik dengan doa ataupun dengan hartanya, maka Allah akan memberikan kemudahan urusan usahanya, disebabkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.

Suatu ketika ada yang datang kepada Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengadukan tentang urusannya, yaitu dia berusaha mencari nafkah di dunia dan adiknya menuntut ilmu agama, beliau menjawab dengan sabdanya :

لعلك ترزق به

“Apakah kamu tidak mengetahui,bahwa lancarnya usahamu itu disebabkan adikmu (peduli dan membiayai untuk menuntut ilmu agama).”

Mari berusaha hasad (ghibthah) kepada orang yang mempunyai kebaikan dan ilmu, yang apa bila kita mempunyai hal itu kita akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

***

Disusun di bumi Allah – Cikarang

Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni

Artikel: www.muslimberdikari.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: