Akhlak

Pokok-Pokok Dalam Adab dan Akhlak

Menjaga Amanah

1. Menjaga Lisan

Seorang hamba yang mengaku dirinya mukmin wajib untuk berkata yang baik atau jika dirinya tidak mampu berkata yang baik maka dia wajib diam, dan dia harus berjihad menjaga lisannya dari dosa ghibah, hasad, mengadu domba.

Dengan sebab tidak terjaganya lisan inilah yang banyak menyebabkan terjadi kejahatan dan kedholiman.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر؛ فليقل خيرًا أو ليصمت

“Barangsiapa yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka pastilah berkata yang baik atau diam.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

2.  Meninggalkan ucapan atau perbuatan yang tidak bermanfaat

Tanda seorang hamba yang baik agamanya adalah dia enggan berucap dan beramal sesuatu yang merugikan dirinya baik dalam kehidupan dunianya terlebih urusan agamanya, sebab seorang hamba yang cerdas akan memikirkan kehidupan setelah kematian.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Sesungguhnya tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu (ucapan atau perbuatan) yang tidak manfaat bagi dirinya (agamanya).” (Hadits Hasan, HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat lain:

إن من حسن إسلام المرء قلة الكلام فيما لا يعنيه

“Sesungguhnya tanda dari baiknya islam seseorang adalah sedikit bicara pada sesuatu yang tidak memberikan manfaat padanya.” (HR. Ahmad)

3. Jangan marah

Marah awal malapetaka dan kegaduhan yang terjadi di mana-mana.

Namun tidak semua marah tercela, jika marahnya di sebabkan agamanya dilecehkan dan di hinakan maka amarah yang seperti ini adalah wujud keimanan yang ada pada diri hamba tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 أن رجلًا قال للنبي ﷺ أوصني قال لا تغضب، فردد مرارًا قال: لا تغضب

“Ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; wasiatkanlah diriku ya Rasulullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Janganlah kamu marah! maka beliau mengulang lagi: janganlah kamu marah!.” (HR. Bukhari)

4. Mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri

Sangat wajar jika setiap insan mencintai dirinya sendiri, sungguh sangat luar biasa jika ada seorang hamba mencintai saudaranya sesama muslim yang lain seperti kecintaan kepada dirinya, begitu juga membenci sesuatu yang menimpa saudaranya sebagaimana dia tidak senang jika ada sesuatu yang jelek menimpa dirinya.

Intinya dia empati kepada muslim yang lain yaitu mampu merasakan apa yang di rasakan oleh saudara muslim yang lain, bukan sekedar simpati saja yaitu ucapan atau ungkapan; “sungguh kasihan, dan semisalnya”, namun tidak segera membantu.

Sifat dari seorang mukmin adalah cepat empati, bukan sekedar simpati.

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

“Tidaklah salah seorang dari kalian sampai dia mencintai saudaranya seperti apa yang ia cintai.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *