Mendoakan muslim yang lain, hanya di lisan saja

Tidak jarang kita jumpai adanya seorang muslim mendoakan saudara muslim yang lain, baik itu dengan lisannya atau tulisan. Namun sangat disayangkan hanya di lisannya saja.

Ada saudaranya yang sakit atau terkena musibah yang lainnya, terus di group-group medsos hanya menuliskan doa saja, sementara ia mampu untuk menjenguknya, bahkan membantu dengan hartanya, namun sekali lagi hanya ditulisan saja tanpa adanya tindakan yang menghantarkan dirinya menuju ke tempat muslim yang lain.

Apakah doa seperti itu dibenarkan?.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الدعاء هو العبــادة

“Doa adalah ibadah.” (HR. Bukhari di dalam Kitab Al-Adabul Mufrad, no.714, Al Hakim 1/491)

Doa adalah termasuk ibadah, dan ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah sampai terpenuhi dua syarat :

1. Ikhlas karena Allah semata.

2. Dan mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan hal inilah seorang mengamalkan dua kalimat syahadat.

Sehingga seorang tidak dibenarkan mendoakan saudaranya hanya sebagai lipstik saja dengan tulisan atau lisannya, namun hatinya berkata lain.

Sementara doa yang terbaik adalah mendoakan kebaikan untuk saudara muslim lainnya dan yang didoakan dalam keadaan tak mengetahuinya, dan doanya itu adalah hakikatnya kebaikan untuk dirinya sendiri.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (HR. Muslim, no. 4912)

Diperbolehkan berdoa untuk saudara muslim yang lain walaupun ia di hadapan seorang yang dido’akannya berada di hadapannya orang yang mendo’akannya, seperti berdo’a dengan hatinya atau dengan lisan tetapi tidak terdengar oleh orang yang dido’akan. (Lihat ‘Aunul Ma’buud IV/275-276)

Dan seorang yang melakukan seperti ini tetap mendapatkan kebaikan doanya untuk saudara muslim yang lain, yaitu doanya kembali kepada dirinya.

Jangan sampai kita mendoakan untuk saudara muslim yang lain secara terang-terangan dengan wasilah medsos yang ada bahkan mengirimkan doa melalui pribadi dengan inbox, namun doanya tak sampai ke hatinya, tentu hal ini adalah kerugian yang nyata.

Karena ciri seorang yang mendoakan saudara muslim yang lain dengan kebaikan yang sebenarnya adalah ia ingin dan senang untuk bertemu dengan orang yang ia doakan kebaikan.

Sehingga sungguh aneh jika seorang mendoakan kebaikan untuk saudaranya, namun ia tak ingin dan enggan untuk bertemu. Tentu sifat seperti ini harus dihindari karena bukanlah suatu kebaikan.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

***

Disusun di bumi Allah – Bekasi, Rabu 29 Rabiul Akhir 1439

Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni

Artikel: www.muslimberdikari.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: