Hikmah tersampaikannya kebaikan
Kepada sama orang awam keras.
Namun kepada yang sudah ngaji lama lembut.
Lah kok gitu, kebalik bro?.
Ngaji adab dan akhlak ya ikhwan dan akhwat biar sesuai apa yang di contohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lemah lembut kepada orang badui padahal kesalahannya secara kasat mata fatal yaitu kencing di masjid, dan Nabi tegas kepada Sahabat nya yang mana Beliau sangat cinta dan sayang kepada mereka, namun Beliau bersikap tegas bahkan terkadang lebih dari itu.
Hikmah itu bukan hanya lemah lembut saja.
Karena lemah lembut yang tanpa ada landasan dalil tidaklah disebut hikmah, apalagi keras tanpa dalil.
Hikmah tersampaikannya ilmu itu harus sesuai dalil, yaitu :
1. Lembut wajib dengan berlandaskan dalil.
2.Tegas juga wajib berlandaskan dalil.
Yang dimaksud dalil itu ya?.
Dalil adalah:
1.Firman Allah.
2. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
3. Pemahaman Sahabat dalam memahami dan mempraktekan Firman Allah dan Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Sebagian pencari ilmu menganggap hikmah itu manakala pematerinya lemah lembut saja, lalu apakah ‘Umar bin Khattab yang terkenal tegas tak disebut sebagai orang yang hikmah?.
Hati-hatilah dalam menilai baik buruk seorang muslim, apalagi ia adalah orang yang berilmu (Da’i), jangan sampai terjatuh dalam dosa dengan berburuk sangka.
Ada seorang yang bertanya kepada diriku (Al-Kwasayni); “Maaf Ustadz kenapa nasihat, artikel dan ceramah antum lebih banyak meluruskan adab dan akhlak menuntut ilmu (untuk orang yang sudah ngaji)?”, akupun menjawab; “sesungguhnya seorang tak akan dipercaya membetulkan genteng rumah orang lain yang bocor, jika genteng rumahnya sendiri masih yang bocor.”
Bagaimana akan bisa mendakwahi orang lain (awam) jika yang mendakwahi masih belum lurus dan lengkap apa yang ia akan dakwahkan.
Ada orang yang lain menyampaikan sesuatu kepada kepadaku (Al-Kwasayni); “Maaf Ustadz jika lancang, ana mendengar kabar di luar bahwa dakwah antum keras?”, akupun tersenyum mendengar ini, lalu aku menjawab: “Ya akhi, sesungguhnya aku ada beberapa majelis ilmu yang dihadiri oleh orang awam, mereka masih tahlilan, maulidan, dan yang banyak itu, tapi mereka tak pernah merasa dakwahku itu keras, dan dakwahku sudah 4 tahun bersama mereka, anapun belum pernah menyampaikan kalimat bid’ah dan syirik kepada mereka, namun aku ganti kata-katanya agar mereka mau tetap menuntut ilmu, misal bid’ah ana ucapkan kepada mereka “ini tidak ada contohnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam” toh tujuannya tetap itu bid’ah namun dikemas di hadapan orang awam agar mereka tak lari dari dakwah kita, bahkan sekarang ini dari RT dan RWnya juga ikut hadir di kajian yang ana mengisi, bahkan 3 bulan awal dakwah ana fenomena yang unik, jika kyai mereka yang biasa mengisi di hari yang lain berhalangan ceramah mereka merasa biasa, namun jika ana ada kepentingan terus ijin untuk tidak mengajar, maka mereka bilang kalau bisa keperluannya ditunda dulu Ustadz agar tetap mengisi kajian. Jangan dikira bahwa dakwah berkembang itu tidak diusik, ada saja orang tak suka menyebarkan brosur ke warga bahwa ana wahabi dan lain-lain, namun jama’ah pengajian membela dengan mengatakan “jika ingin tahu dakwahnya itu hadir ke dalam, jangan hanya dengar dari luar. Salah satu DKM (yang masih awam) cerita ke ana, pak Ustadz sering dijatuhkan di jadwal pengajian kyai yang lain, namun kyai (Al-Kwasayni) tak pernah menanggapi mereka, akupun tersenyum dan menyampaikan ke beliau; “kita ini mau belajar bukan mau debat,” beliau menjawab; “siap tadz”. [¹]
Akupun menyampaikan ke akhi yang bertanya tadi, lalu dakwahku keras dimananya akhi?, jika memang betul dakwahku keras tentulah mereka enggan duduk di majelisku dan sudah bubar kajian yang ana bina. Si akhi tadi berkata; “Kenapa info di luar bahwa dakwah antum keras Tadz?”, akupun menjawab dengan menukil ucapan pak DKM sudah diceritakan diatas; “jika ingin tahu dakwahnya (dakwahku) itu hadir ke dalam, jangan hanya dengar dari luar”, lalu akhi tersebut tersenyum in syaa Allah tanda ia paham.
Selembut apapun penyampain dakwah, jika hatinya keras maka akan terasa keras.
Setegas apapun penyampain dakwah, jika hatinya lembut maka akan terasa lembut.
Dakwah ini yang paham para Da’i, bukan para panitianya atau jamaahnya, jadi tak elok request materi atau bahkan mengatur-ngatur Ustadz untuk menyampaikan tema atau pembahasan sesuai permintaan panitia atau jama’ah kajian.
Sekali lagi lembut berdasarkan dalil dan begitu juga dalam tegas.
Silahkan ikhwan atau akhwat hadiri kajian yang ana menjadi pematerinya, biar merasakan sendiri, jangan sampai salah mendengar berita dari luar, namun berita yang asli dari dalam tak pernah berjumpa langsung.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
***
[¹] Kisah nyata dari salah satu takmir masjid NU di Bekasi
Disusun di bumi Allah – Cibitung
Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni
Artikel: www.muslimberdikari.com
