Pendidikan bidadari dunia

Sering suami mendengar dari istrinya bahwa ia tak mengerti perasaan wanita, bahkan terkadang mengatakan; “coba menjadi wanita…”, ya tentu jangan sampai seperti itu, kalau suami adalah wanita disebut lesbian bukan suami istri.

Sifat wanita itu inginnya dimengerti, namun harus dicatat baik-baik bahwa sifat ingin dimengerti itu tak boleh melanggar larangan dan batasan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Jangan sampai seorang istri ingin dimengerti oleh suaminya, namun dirinya tak mau tahu bagaimana keadaan suaminya.

Wanita mengedepankan perasaan ya itu tabiat dari kaum hawa, hal ini tak mengapa jika tidak sampai melanggar syariat agama. Namun jika terbawa perasaan dan kecemburuan menghantarkan ke jurang durhaka kepada suami, maka ini adalah jebakan iblis agar wanita tak mendapatkan pahala yang banyak dari suaminya.

Wahai bidadari dunia, ingatlah nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Perhatikanlah pergaulanmu bersama suamimu, karena ia (suami) itu bisa menjadi sebab masuk Surgamu atau Nerakamu.” (HR. Ahmad)

Wahai bidadari dunia, muamalahmu bersama suamimu adalah cermin Surga atau Nerakamu, sehingga berhati-hatilah!.

Kata siapa tak boleh cemburu?, namun tetap pada jalur ilmu yaitu tetap berlandaskan dalil, karena itulah yang akan menyelamatkanmu dari murka Allah.

Jika perasaan diikuti terus menerus dan cemburu buta dibiarkan, maka hal itu adalah panah dari iblis agar dirimu pelan-pelan durhaka kepada suamimu.

Wahai bidadari dunia, cintailah suamimu karena Allah bukan karena yang lainnya, sehingga jika terjadi suatu hal yang membuat hatimu tak nyaman engkau tetap nampak tenang dengan keimanan, bukan tindakan yang tak karuan, yang mana malah menyakiti hati suamimu.

Wahai bidadari dunia, semoga Allah menjagamu, memberkahi dan menjadikan dirimu Bidadari yang sebenarnya di Surga-Nya kelak.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

***

Disusun di bumi Allah – Cikarang

Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni

Artikel: www.muslimberdikari.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: