Ngajar itu harus ikhlas
Kekeliruan yang dianggap lumrah : “Ikhlas itu seperti surat Al-Ikhlas yang tidak ada kata “Al-Ikhlas” nya.”
Padahal Sahabat Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ikhlas itu seperti seseorang berjalan di padang pasir yaitu ada bekasnya namun tak terdengar suara langkahnya.”
Jangan sampai pelit terselebung dengan membawa dalil.
Al-Imam Ibnu Hajar As Qolany Rahimahulllah tidak mau mengajarkan kitabnya kecuali ada imbalannya, kenapa apakah beliau tidak ikhlas?.
Beliau menyampaikan : “Aku siap mengajarkan ilmu kepada kaum muslimin, namun anak-anakku tak siap jika bapaknya pulang dan minta jajan lalu aku bilang “ikhlas ya nak”, maka sangat tidak mungkin.” (Dengan Makna)
Jadi sesuatu yang setimpal yang didapatkan oleh seorang Guru, Dosen, Kyai, Ustadz dan seterusnya adalah penguat keikhlasan untuk mereka dan pahala bagi yang memberikan karena jasanya, bukan malah dituduh sebagai orang yang tak ikhlas.
Ikhlas itu amalan hati bukan amal lisan.
Sangat dikhawatirkan orang yang mudah mengatakan “kalau mengajar itu harus ikhlas” malah tidak ikhlas, karena ikhlas itu amal hati bukan amal lisan.
Ucapkanlah terima kasih ketika memberikan hak seseorang yang berjasa jika memang belum bisa memberi setimpal, jangan malah sakiti hati orang yang telah rela mengajarkan ilmu kepada kita dan anak-anak kita dengan ucapan “yang ikhlas ya” pas giliran pindah ke lembaga lain atau kota lain, lalu ucapannya lebih mengenaskan dan kejam dengan entengnya menuduh bahwa pindahnya pengajar itu karena ngajarnya tidak ikhlas.
والله المستعان
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
***
Disusun di bumi Allah – Kwasen tercinta
