Ladang jihad terbuka
Ladang jihad sudah terbuka jauh sebelum pilpres 2014 atau setelah pilpres sekalipun.
Umat islam harus terus ber Jihad sampai hari kiamat, untuk melindungi dirinya, keluarganya, saudara – saudaranya dari api Neraka.
Jihad ilmu lebih diutamakan daripada jihad ke medan perang.
Hukum asal jihad (perang) adalah fardhu qifayah, menjadi wajib apabila :
1. Pemerintah memerintahkan rakyatnya untuk berjihad.
2. satu negara atau masyarakat diserang oleh kaum Kuffar, maka penduduk yang ada di negara tersebut wajib berjihad untuk membela agama, diri, keluarga, negara dan hartanya.
Janganlah berharap berjihad (berperang ke medan perang), sebelum berjihad ilmu (bersabar menuntut ilmu)!.
Tidak ada seorang mukmin yang enggan mati syahid. Tapi apakah kita sudah belajar fiqh jihad?.
Al-Imam Bukhari Rahimahullah berkata :
العلم قبل القول و العمل
“Berilmu terlebih dahulu, sebelum berkata dan beramal.” (Shahih Bukhari)
Apakah jihad itu harus dengan senjata terus?.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله
“Seorang mujahid itu adalah seorang yang melawan hawa nafsunya untuk ta’at kepada Allah.” (HR. Muslim) .
Apakah kita sudah mampu melawan hawa nafsu kita?.
Apakah kita sudah mampu mengangkat pena sebelum mengangkat senjata?.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قيد العلم بالكتابة
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”
Pena merupakan senjata bagi para penuntut ilmu untuk mengikat ilmu dari apa yang ia dapat.
Hafalan kita tidak lebih hebat dari Imam Syafi’i Rahimahullah yang apabila beliau mendengar sesuatu beliau langsung hafal, sampai – sampai jika beliau berjalan di pasar atau keramaian beliau sumpel ke dua telinganya, karena jika mendengar sesuatu langsung hafal.
Apakah kita sudah disiplin dalam berjihad ilmu?, banyak waktu kita terbuang untuk urusan dunia kita, kantong kita dan gemerlapnya cita-cita kita yang tidak akan habis sampai mulut kita disumpel dengan tanah kuburan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
العلم بالتعلم والحلم بالتحلم
“Mendapatkan ilmu itu harus dengan belajar dan sikap lemah lembut itu bisa di dapatkan jika berusaha belajar lemah lembut.”
Berapa banyak waktu kita untuk ilmu?.
Umumnya sepekan sekali,iya jika hadir terus.
Apakah kita sudah beradab dalam menuntut ilmu?.
- Datang lebih awal sebelum Ustadznya datang ke majelis ilmu .
2. Mematikan hp sebelum masuk ke majelis ilmu.
3. Membawa kertas dan pena untuk mencatat ilmu.
4. Tidak bersandar di tembok atau yang lain ketika menuntut ilmu.
5. Menjaga pandangan dengan tidak tengak-tengok kemana-mana.
6. Tidak memotong materi yang sedang disampaikan seorang Ustadz.
7. Tidak tidur di majelis ilmu.
8. Memberikan isyarat jika ada perlu meninggalkan majelis ilmu.
9. Bersabar dalam bertanya dengan menunggu sesi tanya jawab.
10. Jangan bertanya kepada pemateri dalam rangka untuk menjebak atau menjajal .
11. Tidak makan di dalam majelis ilmu .
12. Berwhudu jika mengantuk.
13. Siap ditegur pemateri jika kita mengobrol atau sibuk yang lain.
14. Sabar atas khilaf seorang Ustadz jika kita mendapatkannya dan sampaikan ketika berdua saja.
15. Berpakaian rapi disaat menuntut ilmu.
16. Mendekat ke pemateri atau Ustadz yang akan atau sedang menyampaikan ilmu.
17. Menghormati guru atau Ustadz ketika mengambil ilmu.
18. Memberikan waktu dan tempat kepada pemateri jika ada pertanyaan, meskipun kita telah mengtahui jawabannya .
19. Tidak bosan dengan materi yang pernah didengar.
20. Tidak merasa lebih pintar jika ada Ustadz kita atau orang yang berilmu.
21. Bertanyalah apa yang kita tidak ketahui saja.
22. Tidak memaksa seorang pemateri atau Ustadz, jika beliau sudah mengatakan : Allahu A’lam .
23. Panggilah seseorang sesuai ke ilmuannya dan dudukanlah siapa kita dalam bab masalah ilmu agama .
24. Jangan sombong dan meremehkan pemateri atau Ustadz yang akan atau sedang menyampaikan ilmu, walau tidak terkenal atau bergelar .
25. Tidak langsung menbantah atau mendebat jawaban pemateri.
26. Tidak membanding-bandingkan dengan Ustadz lain .
27. Tidak mengadu domba pemateri dengan Ustadz lain melalui pertanyaan kita
28. Mengucapkan terima kasih jika pertanyaan kita dijawab.
29. Sopan dan berdab di saat bermajelis .
30. Tidak mengangkat suara melebihi guru atau ustadz di saat bertanya .
31. Tabayyun (kroscek) jika mendengar suatu berita atau kabar miring dari seorang Ustadz atau muslim yang lain.
32. Selalu mencantumkan sumber nukilan, jika menukil tulisan atau ucapan dari orang yang berilmu.
Apakah kita sudah melakukan poin-poin adab dalam menuntut ilmu, yang disebutkan di atas?.
Jika belum, tunaikanlah terlebih dahulu, sebelum menunaikan jihad yang lebih!.
Kenapa dari dulu zionis Yahudi tidak bisa mengalahkan pejuang palestina, padahal senjata mereka lebih canggih?.
Karena pejuang palestina orang yang berilmu,khususnya Al-Qur’an dan keimanan mereka.
Apakah kita sudah mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan?
Jika sudah, ajarkanlah kepada istri dan anak-anak dan keluarga.
Kenapa pasukan Nabi kita menang di perang Badar, padahal secara jumlah mereka sedikit?.
Karena para Sahabat berilmu dan beradab kepada guru mereka sekaligus Nabi mereka.
Apakah kita sudah mengamalkan kalimat “in sya Allah” dengan baik dan benar?.
Jika belum amalkan sekarang, jika kita berjanji atau mengadakan akad yang lain dengan mengelak dengan kalimat in sya Allah atau berani bilang : “aku kan bilangnya in sya Allah, jadi tidak mesti datang atau ditepati.”
In sya Allah adalah kalimat mulia, yang mana kita sudah diikat janji atau akad kita 99,9%, janganlah ingkar janji atau mengelak, bahkan menipu dengan kalimat mulia “In sya Allah”, karena kita sudah mengucapkannya telah berjanji kepada Allah.
Mengelak atau membatalkan janji atau akad yang disepakati dengan kata : “afwan ya…”, padahal tidak ada udzur syar’i (halangan).
Mari berjihad bersama dalam mengambil dan menyampaikan ilmu!.
Jihad dengan ilmu lebih berat dibandingkab jihad dengan senjata.
Seorang ingin membantah syubhat tentu harus berilmu terlebih dahulu.
Seorang ingin berdakwah tentu berilmu terlebih dahulu.
Seorang ingin masuk Surga tentu harus berilmu.
Seorang ingin ‘amar ma’ruf nahi munkar tentu harus berilmu dahulu.
Jihad (berperang) bukan hanya mengandalkan semangat semata, namun harus dipersiapkan ilmunya, bekal, teknik, tenaga dan siapa pemimpin jihadnya.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
***
Disusun di bumi Allah – Kwasen Tercinta
Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni
Artikel: www.muslimberdikari.com
